Ramadhan Berdampak dan Solusi Persoalan Umat

Ramadhan Berdampak dan Solusi Persoalan Umat

Smallest Font
Largest Font

Khatib: Dr. Muh. Ikhwan Ahada, S.Ag., M.A. (Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Dosen Al Islam Kemuhammadiyahan Pascasarjana Universitas Ahmad Dahlan)*

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله الذي أنعم علينا بنعمة الإسلام والإيمان، واختارنا من خير الأنام. أشهد أن لا إله إلا الله الخالق العلّام، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، وهو خير الأنام. اللهم صل وسلم على نبينا محمد صلى الله عليه وسلم، وعلى آله وأصحابه إلى يوم القيامة

Jama’ah kaum Muslimin rahimakumullah,

Setelah kita semua menyempurnakan ibadah puasa Ramadhan tahun ini, marilah kita mengagungkan Asma Allah Swt. sebagai bentuk syukur kepada-Nya, sejalan dengan firman-Nya dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 185:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya: “…hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”

Begitu juga sabda Rasulullah saw. dalam hadits riwayat Ath-Thabrani:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: زَيِّنُوا الْعِيدَيْنِ بِالتَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ وَالتَّقْدِيسِ

Dalam kitab “Kasyful Asrar” oleh Abdul ‘Aziz bin Ahmad al-Bukhary, menjelaskan bahwa tujuan Allah SWT mensyariatkan ibadah kepada manusia adalah, untuk memberi perlindungan terhadap agama, jiwa, akal, keturunan dan juga harta manusia itu sendiri. 

Demikian halnya dengan syariat puasa bagi orang-orang yang beriman. Sehingga siapapun di antara kita yang menunaikan puasa dengan sungguh-sungguh dan sesuai dengan syarat – rukunnya, pastilah kita akan mencapai tujuan akhir puasa, yaitu takwa.

Takwa pada hakikatnya memerdekakan jiwa manusia dari ketergantungan kepada makhluk. Orang bertakwa menyandarkan hidupnya hanya kepada Allah, Dzat Yang Maha Menciptakan alam semesta.

Ma’asyiral mukminin rahimakumullah,

Marilah kita renungkan sejenak kondisi kita saat ini, seperti atmosfer geopolitik Internasional yang sedang memanas, rasa kemanusiaan yang menguap di bumi para nabi yakni Palestina, juga persoalan moralitas yang jatuh pada titik nadir. Kerumitan yang ada di bangsa kita juga tidak kalah memprihatinkan, seperti tingkat kemiskinan yang masih signifikan, rasa keadilan dan persamaan di mata hukum masih ternoda, maraknya peredaran narkoba, persoalan ketenagakerjaan, kerusakan sumber daya alam, trafficking adanya bibit- bibit intoleran yang seakan tidak terhenti, belum lagi tantangan disrupsi yang menggila dan melanda seluruh aspek kehidupan masyarakat.

Begitu pula masalah lainnya juga masih membutuhkan solusi dan jalan keluar agar persoalan ini bisa teratasi dan terhindar dari krisis multidimensi yang lebih parah, di sinilah dampak puasa Ramadhan kita [takwa] dituntut adanya. 

Beban berat tersebut bukan sekedar dalam eskalasi, jumlah dan bobot masalahnya yang memang kompleks, tetapi pada saat yang sama diperparah oleh penyakit kronis mengurat yang bernama KORUPSI yang terus tersaji secara jelas melalui media elektronik maupun cetak di hadapan mata kita. Gambaran di atas setidaknya memicu pertanyaan bagi diri kita sendiri:

Pertama: Di mana dan apakah dampak puasa Ramadhan kita selama ini? Jawaban itu semua ada dalam hati kita masing-masing. Sebab puasa adalah ibadah milik Allah dan Dia pula yang akan memberikan balasannya. Sebagaimana hadits qudsi:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Artinya: “Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Ia adalah untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya.”

Jika akhir dari puasa kita adalah ketakwaan, semestinya keadaan kita tidaklah demikian adanya, setidaknya secara pribadi kita menjadi orang – orang yang mendapatkan pencerahan dari puasa dan mampu menjadi solusi bagi diri dan orang – orang terdekat kita. Marilah kita bertanya kepada diri sendiri, apakah dampak puasa itu sudah kita rasakan? Ataukah kita masih menjadi bagian dari persoalan itu, atau bahkan menjadi pemicu adanya persoalan tersebut? Kedua, apakah sebuah bangsa yang sebagian besar penduduknya muslim ini, dan berpuasa di bulan Ramadhan juga tanpa memiliki kekuatan sedikitpun untuk mengurai masalah keumatan/kemanusiaan ini?

Berkaitan dengan hal itu, marilah kita renungkan sekaligus kita ukur dampak dari puasa kita dalam kaitannya dengan solusi atas persoalan keumatan/kemanusiaan yang ada saat ini. Allah berfirman dalam Surat Al-Anfal ayat 29:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا...

Artinya: “Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan (pembeda).”

Kata “furqan” menurut tafsir Ibnu Abbas r.a. bermakna ketajaman dalam memilih dan memilah secara sempurna antara yang benar dan salah, yang samar – samar menjadi terang dan seterusnya. Dengan modal ini, manusia akan terbebas dari belenggu dan penyakit hati seperti culas, hasad, culas, khianat, korupsi, manipulasi, kolusi, bahkan syirik, dan lain-lain.

Selanjutnya kita akan dapat menjalani kehidupan ini dengan sikap jujur, tenang dan tawadhu, transparan, akuntabel, objektif, otentik dalam berbuat dan berkata serta siap bertanggung jawab kepada manusia dan Allah SWT.

Selanjutnya Allah berfirman dalam Surat Al-A’raf ayat 96:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ...

Artinya: “Jika penduduk negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan keberkahan dari langit dan bumi.”

Apabila orang-orang yang beriman di suatu bangsa menunaikan ibadah puasa dengan kualitas sebagaimana yang dikehendaki Allah SWT, maka semestinya bangsa tersebut akan memiliki kemampuan dan kecerdasan spiritual (spiritual quotient), yang ditandai dengan perilaku:

  1. Tanggung Jawab
  2. Jujur dan berlapang dada
  3. Welas asih terhadap sesama
  4. Tulus
  5. Rendah Hati
  6. Mudah Memaafkan

Dengan modal tersebut kondisi sebuah bangsa dapat berjalan dengan lebih baik.

Kedua ayat di atas mukhatab nya adalah jamak (orang banyak) kolektif, sebuah komunitas bahkan sebuah negeri yang bertaqwa akan Allah siapkan solusi atas berbagai persoalan secara kolektif juga. 

Sedangkan kelompok ayat berikut ini merupakan janji Allah kepada pribadi – pribadi yang taqwa kepada-Nya, sehingga tawaran solusi individual Allah SWT, berikan dengan melebihi ekspektasi kita.

Allah berfirman dalam Surat Ath-Thalaq ayat 2–4:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

Artinya: "… barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan baginya."

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Artinya: "Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya."

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Artinya: "… dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya."

Kumpulan ayat di atas adalah janji – janji Allah SWT, baik yang ditujukan kepada individu maupun kolektif (jama’i) bagi mereka yang tuntas dan berkualitas dalam berpuasa. Tentu saja tidak hanya itu, Allah bahkan menanamkan sikap optimisme atau “raja’” yang tinggi dalam percaturan dunia.

Ma’asyiral al-Muslimin rahimani wa rahimakumullah.... 

Namun di sisi lain, kita masih merasakan dan menyaksikan drama kehidupan anak bangsa yang jauh dari kata “merdeka” yang sesungguhnya. Lalu kemanakah menguapnya, hasil puasa kita sebagai individu dan warga bangsa yang mayoritas muslim selama ini?

Kita sadari bahwa ternyata janji – janji Allah di atas masih jauh dari jangkauan kita. Inilah pertanyaan yang menggelisahkan jiwa spiritual kita masing – masing. Mungkin puasa yang kita tunaikan hanya sekedar penggugur kewajiban, atau mungkin kita telah TIDAK JUJUR dalam beragama ini, sehingga yang terjadi adalah ruang kosong antara idealitas janji yang mestinya kita peroleh dengan kenyataan yang saat ini terjadi. 

Jama’ah rahimani wa rahimakumullah…. 

Sebagai penutup khutbah kali ini, marilah agar nilai puasa yang sesungguhnya berupa kemerdekaan hati bagi kita dan bangsa ini harus terus dimanifestasikan dengan “الهمة العالية” :

  1. Semangat yang tinggi dan jujur dalam beribadah dengan arti yang seluas- luasnya, bahwa apa yang dilakukan merupakan upaya penghambaan manusia kepada Rabb-nya dan kelak akan dimintakan pertanggungjawaban.
  2. Semangat yang tinggi berjamaah dalam bingkai keIndonesiaan, sehingga bangsa ini tidak bercerai berai dan dipenuhi dengan kepentingan pribadi atau golongan.
  3. Ghirah yang tinggi dan jujur dalam beramal dan berkarya nyata untuk kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat banyak, sehingga tercipta بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
  4. Semangat yang tinggi untuk terus mengupayakan “النفوس تزكية “ 

Dengan demikian Allah SWT segera berkenan menipiskan jarak antara janji – janji-Nya dengan realitas kehidupan kita baik secara individu maupun kolektif/berbangsa. Amien.

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر كبيرا

الحمد لله الذي أنعم علينا بنعمة الإسلام والإيمان، واختارنا من خير الأنام محمد صلى الله عليه وسلم. أشهد أن لا إله إلا الله، وأشهد أن محمدًا رسول الله. اللهم صل وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه إلى يوم القيامة

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات، والمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات، إنك سميع قريب مجيب الدعوات

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang hidup maupun yang telah wafat.

اللهم انصرنا فإنك خير الناصرين، وافتح لنا فإنك خير الفاتحين، واغفر لنا فإنك خير الغافرين، وارحمنا فإنك خير الراحمين، وارزقنا فإنك خير   الرازقين، واهدنا ونجنا من القوم الظالمين والكافرين

Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi  pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik  pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik  pemberi pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik- baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang dzalim dan kafir.

اللهم أصلح لنا ديننا الذي هو عصمة أمرنا، وأصلح لنا دنيانا التي فيها معاشنا، وأصلح لنا آخرتنا التي إليها معادنا، واجعل الحياة زيادة لنا في كل خير، واجعل الموت راحة لنا من كل شر

Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng  bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup  kami. Perbikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah  kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا

اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا.

وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.

Ya Allah anugerahkanlah kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini.

Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami.

Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.

عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون

فاذكروا الله يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم،  ولذكر الله أكبر

.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

*) Disampaikan dalam khutbah salat Idulfitri pada hari Jumat, 20 Maret 2026, di Alun-alun Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta 

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait