Refleksi Spirit Ramadan dalam Aspek ekologi, Sebuah Khutbah Idul Fitri

Refleksi Spirit Ramadan dalam Aspek ekologi, Sebuah Khutbah Idul Fitri

Smallest Font
Largest Font

Oleh: Muhammad Ziya Ul Albab*

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bapak, Ibu, Jamaah Shalat ‘Idul Fitri, Rahimakumullah

Allah SWT menghadirkan Ramadhan dengan segala keutamaannya adalah untuk menciptakan insan yang bertaqwa. Sebagaimana dalam QS. al Baqarah ayat 183 yang sering kita baca tersebut.[1] Imam al Maraghi di dalam tafsirnya menjelaskan mengapa berpuasa itu dapat menjadikan seseorang “la ‘allakum tattaqun”. Orang yang berpuasa akan menjadi orang bertaqwa, karena ketika berpuasa ia dilatih untuk takut kepada Allah SWT baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Seorang mukmin yang berpuasa selama tiga puluh hari akan terlatih untuk memiliki rasa malu kepada Tuhannya, sehingga ia tidak akan menipu orang lain, tidak memakan harta secara batil, tidak melakukan kemungkaran, dan jika ia tergelincir maka ia akan langung bertaubat kepada Allah SWT.[2]

Lebih tinggi dari Taqwa ada namanya Ihsan. Jika seorang muslim sudah bertaqwa maka ia akan menjalankan perintah Allah SWT, dan jika ia sudah sampai pada tahap Ihsan maka ia akan merasakan kehadiran Allah SWT saat menjalankan perintah tersebut. Dalam Hadis Jibril, Nabi SAW menggambarkan ihsan dengan kalimat ( أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ ) yang artinya "Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu." (HR. Muslim).[3] Rasa takut kepada Allah SWT tersebut juga dikuatkan dengan janji Allah, bahwa Dia akan membalas setiap kebaikan atau keburukan individu walaupun itu hanya secuil kebaikan atau keburukan. Sebagaimana tergambar dalam QS. al-Zalzalah ayat 7 dan 8. Allah SWT berfirman:

. فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ. وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗࣖ.

Artinya: "Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya". "Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya".

Mengacu pada tafsir al-Maraghi tersebut dapat kita ambil sebuah pelajaran bahwa seorang muslim yang paripurna itu tidak hanya berkualitas dari segi ketaatan dalam ritual amal ibadah (ketaqwaan atau kesolehan spiritual), tapi juga berkualitas dalam hal-hal diluar ritual ibadah (ketaqwaan atau kesalehan sosial). Salah satu yang ingin khatib fokuskan dalam khutbah idul fitri ini adalah ketaqwaan dalam aspek ekologi. Ekologi secara bahasa berakar dari bahasa Yunani yaitu oikos (rumah) dan logos (ilmu), maksudnya adalah ilmu tentang kerumahtanggaan atau tempat tinggal dan yang hidup di dalamnya.[4] Menurut KBBI, ekologi adalah hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan  (kondisi) alam sekitarnya (lingkungannya).[5] Semua yang ada di bumi Allah SWT ini mulai dari manusia, hewan, tumbuhan, dan alam, semuanya saling terhubung dan seimbang. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. al-Hijr ayat 19:

وَالْاَرْضَ مَدَدْنٰهَا وَاَلْقَيْنَا فِيْهَا رَوَاسِيَ وَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَّوْزُوْنٍ ۝١٩

Artinya: "Kami telah menghamparkan bumi, memancangkan padanya gunung-gunung, dan menumbuhkan di sana segala sesuatu menurut ukuran(-nya)."

Bapak, Ibu, Jamaah Shalat ‘Idul Fitri, Rahimakumullah

Oleh karena itu kita perlu selalu berusaha untuk menjaga, melestarikan dan memperlakukan hewan, tumbuhan dan lingkungan dengan sebaik-baiknya. Bagaimana bisa seorang muslim yang mengaku beriman kepada Allah SWT, ia berpuasa Ramadhan, ia takut makan minum dengan sengaja (karena takut puasanya batal dan ia malu kepada Allah SWT), akan tetapi disaat yang bersamaan ia tidak takut dan tidak malu jika merusak lingkungan. Mengapa kita tidak merasa takut dan malu kepada Allah SWT saat membuang sampah sembarangan, saat membakar hutan yang menyebabkan gangguan pernafasan, saat kita merusak lingkungan demi memenuhi ego dan nafsu kita sendiri? Maka ini perlu kita renungkan bersama! Allah SWT mengingatkan kita untuk menjaga lingkungan ini, dalam QS. al-A’raf ayat 56:

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ ۝٥٦

Artinya: "Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik."

Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: « الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، ‌وَأَدْنَاهَا ‌إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ.[6]

Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Iman itu ada tujuh puluh lebih—atau enam puluh lebih—cabang. Yang paling utama adalah ucapan 'Laa ilaha illallah' (Tiada Tuhan selain Allah), dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan. Dan rasa malu itu adalah salah satu cabang dari iman." (HR. Muslim)

Syekh Ibn ‘Allan dalam kitab Dalil al-Falihin menjelaskan bahwa kata الْأَذَى dalam Hadis tersebut adalah segala hal yang mengganggu orang lain ketika berjalan, baik berupa batu, duri, atau sejenisnya.[7] Dari syarah Hadis tersebut dapat kita ambil pelajaran bahwa jika menyingkirkan duri dari jalanan saja termasuk bagian dari level iman terendah seorang muslim, maka dimana posisi iman orang-orang yang justru membuang sampah sembarangan? Dimana iman orang-orang yang tega membakar hutan demi mencari keuntungan?

Bagaimana iman orang-orang yang melakukan berbagai kerusakan di muka bumi yang pada akhirnya menciptakan bencana? Dan bagaimana pula iman orang-orang yang menyalahkan Allah SWT atas bencana yang terjadi yang dibungkus dengan kalimat “ini adalah ujian dari Tuhan”, padahal justru bencana itu terjadi karena perbuatan semena-mena dirinya sendiri pada lingkungan? Dimana posisi iman orang-orang yang merusak lingkungan, kemudian terciptalah bencana yang membuat orang lain sengsara? Sungguh ini perlu menjadi perhatian kita bersama!

Bapak, Ibu, Jamaah Shalat ‘Idul Fitri, Rahimakumullah

Setelah kita memahami bahwa menjaga alam adalah bagian dari iman, pertanyaannya adalah, apa yang harus kita lakukan mulai hari ini? Izinkan khatib menyampaikan panduan praktis untuk kita semua, dari skala rumah tangga hingga kebijakan negara, sebagai wujud nyata ketaqwaan kita:

1. Level Individu & Rumah Tangga: Belajar Memilah

Ketaqwaan dimulai dari tempat sampah kita. Mari kita pilah dan sederhanakan menjadi tiga warna atau kategori:

  • Warna Hijau (Organik): Sisa makanan, daun, dan kulit buah. Jangan campur ini dengan plastik! Ini adalah 'makanan' untuk tanah kita.
  • Warna Kuning (Bernilai): Botol plastik (PET), kaleng, dan kardus. Ini bukan sampah, ini adalah aset yang bisa kita sedekahkan.
  • Warna Merah (Residu): Plastik sachet, tisu kotor, dan popok. Inilah yang baru kita kirim ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir).

2. Solusi Banjir Dumai: Menabung Air dengan Biopori

Bapak Ibu, tanah kita di Dumai ini butuh napas. Mari buat Biopori di halaman rumah. Cukup gali lubang sedalam 1 meter, beri pipa PVC yang dilubangi pinggirnya, dan isi dengan sampah organik (warna hijau tadi). Sampah itu akan mengundang cacing yang membuat terowongan alami di dalam tanah. Terowongan itulah yang akan menyerap air hujan dengan sangat cepat, sehingga parit kita tidak meluap dan rumah kita tidak banjir.

 3. Level Masjid: Gerakan Sedekah Plastik

Khatib mengusulkan agar masjid-masjid kita menjadi 'Eco-Masjid'. Mari kita sediakan 'Keranjang Sedekah Plastik'. Jamaah yang membawa botol kosong dari rumah bisa memasukkannya ke sana. Setiap pekan, botol-botol ini dijual ke pengepul. Hasilnya? Uangnya bisa untuk biaya listrik masjid atau santunan anak yatim. Inilah cara mengubah secuil plastik menjadi pahala jariyah yang terus mengalir.

4. Level Kelurahan & Masyarakat: Ekonomi Sirkular

Kita dorong Kelurahan dan Kecamatan untuk menghadirkan “alat pengolah sampah” bukan sekadar “tempat pembuangan sampah”. Kita butuh mesin pencacah plastik agar sampah plastik berubah menjadi bijih plastik bernilai tinggi, atau mengolahnya menjadi paving block dan ecobrick sebagai bahan bangunan ramah lingkungan. Bayangkan jika setiap kelurahan punya Bank Sampah Induk; sampah tidak lagi menjadi musibah, tapi menjadi maslahah.

5. Level Pemerintah: Kebijakan Hijau

Terakhir, kita titipkan amanah kepada para pemimpin kita. Kita butuh Pusat Daur Ulang (PDU) di setiap kecamatan agar sampah tidak menumpuk di TPA. Kita butuh ketegasan terhadap industri agar mereka bertanggung jawab atas kemasan plastik yang mereka hasilkan.Kita juga butuh ketegasan dalam penegakan hukum terkait pengelolaan sampah ini agar semuanya dapat berjalan dengan baik. Inilah peran pemerintah pusat dan daerah dalam menjamin bumi ini tetap layak dihuni oleh anak cucu kita.

Bapak, Ibu, Jamaah Shalat ‘Idul Fitri, Rahimakumullah

Ramadhan telah melatih kita menahan diri. Idul Fitri adalah saatnya kita melepas energi ketaqwaan itu ke alam semesta. Jangan biarkan tangan yang baru saja kita gunakan untuk bersalaman saling memaafkan, menjadi tangan yang sama yang mengotori bumi Allah dengan sampah. Khatib menyadari dan mengakui bahwa semua langkah ini tidak akan selalu mudah, tapi khatib juga yakin bahwa tidak mudah bukan berarti tidak bisa. Kita perlu sama-sama menjaga dan melestarikan lingkungan kita, tidak bisa hanya satu orang, tapi harus kita semua bersama-sama, dan semua itu dimulai dari kesadaran. Bukan hanya kesadaran untuk kebersihan lingkungan, tapi juga kesadaran bahwa lingkungan ini adalah amanah dari Allah SWT yang menentukan kualitas iman kita sehingga perlu kita perhatikan dengan sebaik-baiknya. Mari kita jadikan Dumai, kota idaman yang bertaqwa secara spiritual, dan mulia secara ekologikal.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

*Penulis adalah Mahasiswa S1 Ilmu Hadis Universitas Ahmad Dahlan dan Influencer Dakwah Gen Z

Referensi

‘Allan, Muhammad ‘Ali bin Muhammad bin. Dalīl Al-Fāliḥīn Li Ṭuruq Riyāḍ Al-Ṣāliḥīn. Edited by Khalil Ma’mun Syiha. 4th ed. Beirut: Dar al-Ma’rifah, n.d.

Al-Marāghī, Aḥmad ibn Muṣṭafá. Tafsīr Al-Marāghī. Mesir: Sharikat Maktabat wa Maṭbaʻat Muṣṭafá al-Bābī al-Ḥalabī wa Awlāduh, 1946.

Al-Naysābūrī, Muslim ibn al-Ḥajjāj al-Qushayrī. Shahih Muslim. Edited by Muhammad Dzahni Effendi and dkk. Turki: Dar al-Thiba’ah al-’Amirah, 1915.

Bahasa, Badan Pengembangan dan Pembinaan. “KBBI V Daring.” Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia. Last modified 2018. kbbi.kemdikbud.go.id.

Kholis, Nur, and Qaem Aulassyahied. Ajaran Nabi Dalam Memelihara Alam: Tinjauan Hadis-Hadis Ekologis Pendekatan Interkoneksi. Edited by Fadhlurrahman. 1st ed. Yogyakarta: UAD Press, 2021.


[1] يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيامُ كَما كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ  "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa." (QS. Al-Baqarah: 183)

[2] Aḥmad ibn Muṣṭafá Al-Marāghī, Tafsīr Al-Marāghī (Mesir: Sharikat Maktabat wa Maṭbaʻat Muṣṭafá al-Bābī al-Ḥalabī wa Awlāduh, 1946), juz 6, hlm. 70.

[3] Muslim ibn al-Ḥajjāj al-Qushayrī Al-Naysābūrī, Shahih Muslim, ed. Muhammad Dzahni Effendi and dkk (Turki: Dar al-Thiba’ah al-’Amirah, 1915), juz 1, hlm. 28.

[4] Nur Kholis and Qaem Aulassyahied, Ajaran Nabi Dalam Memelihara Alam: Tinjauan Hadis-Hadis Ekologis Pendekatan Interkoneksi, ed. Fadhlurrahman, 1st ed. (Yogyakarta: UAD Press, 2021), hlm. 1.

[5] Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, “KBBI V Daring,” Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia, last modified 2018, kbbi.kemdikbud.go.id.

[6] Al-Naysābūrī, Shahih Muslim, juz 1, hlm. 46.

[7] Muhammad ‘Ali bin Muhammad bin ‘Allan, Dalīl Al-Fāliḥīn Li Ṭuruq Riyāḍ Al-Ṣāliḥīn, ed. Khalil Ma’mun Syiha, 4th ed. (Beirut: Dar al-Ma’rifah, n.d.), juz 3, hlm. 47.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait